Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Widget HTML #1

Baitul Mustaqim.com GROUP GLOBAL MENGUCAPKAN SELAMAT DAN SUKSES ATAS TERSELENGGARANYA G20 Bali, Indonesia, pada tahun 2022. G20 adalah forum kerja sama multilateral yang terdiri dari 19 negara utama dan Uni Eropa (EU). Gerakan Baitulmustaqim.com DUKUNG G20 YAKNI mewujudkan pertumbuhan global yang kuat, berkelanjutan, seimbang, dan inklusif.

Joko Tingkir Ngombe Dawet, Siapa Sebenarnya Joko Tingkir, Simak Penjelasannya Disini......

 Baitulmustaqim.com - Joko Tingkir Ngombe Dawet, Siapa Sebenarnya Joko Tingkir, Simak Penjelasannya Disini. Akhir-akihr ini nama Joko Tingkir booming dan viral baik di medsos maupun kalangan media lainnya. Nama tersebut menjadi viral karena adanya sebuah lagu Jawa Joko Tingkir Ngombe Dawet yang diciptakan oleh Pratama Youtuber asal Lampung pada awal tahun 2021.
Makam Joko Tingkir, Di Kampung Butuh, Sragen Jawa Tengah
Namun lagu ini kembali viral pada pertengahan tahun 2022 ini setelah para Youtuber seperti Denny Caknan, Gus Azmi, Yeni Inka dan lainnya mengcover lagu ini. Lagu ini mulai menuai kontroversial setelah di berbagai kalangan masyarakat Jawa, khususnya para Ulama' Lamongan Jawa Timur, hingga KH. Gus Muawiq menuai protes keras dengan adanya lagu Joko Tingkir Ngombe Dawet. 

Namun saat ini pencipta lagu Joko Tingkir Ngombe Dawet telah meminta ma'af melalui kanal youtube-nya Tama Halu 008 dan telah merubah syairnya. Pratama mengatakan bahwasannya telah meminta ma'af kepada masyarakat Lamongan dan semua pihak yang merasa tersinggung dengan adanya lagu tersebut.

Pratama sendiri tidak mengetahui persis siapa sebenarnya nama Joko Tingkir yang disematkan dalam syair lagunya tersebut, hingga membuat kontrovesial, setelah minta ma'af syair lagu tersebut sudah diganti dengan kalimat lain.

Dengan adanya fenomena ini ternyata bukan hanya pengarang lagu Joko Tingkir Ngombe Dawet saja yang belum mengenal dan memahami siapa sebenarnya Joko Tingkir, namun masih banyak kalangan yang sama sekali tidak mengenali siapa sebenarnya Joko Tingkir tersebut.

Terlepas dari semua permasalahan pro dan kontra serta viralnya lagu Joko Tingkir tersebut maka sebaiknya kita ketahui bersama siapa sebenanarnya sosok Joko Tingkir itu. 

Nah, pada artikel kali ini admin akan mengupas sejarah yang terlupakan seorang wali dari Jawa dengan gelar Joko Tongkir. Yuk.... kita simak secara lengkap siapa sebenarnya Joko Tingkir agar kita dan generasi selanjutnya tidak buta dengan sejarah.

Nama Asli Joko Tingkir

Nama asli Joko Tingkir adalah Mas Karèbèt, Di lahirkan pada tanggal 18 Jumadil Akhir pada tahun Dal mangsa VIII menjelang subuh. Oleh sang ayah Joto Tingkir kecil diberi nama "Mas Karebet" karena ketika dilahirkan, ayahnya Ki Kebo Kenanga dari Pengging, Ki Ageng Pengging sedang menggelar pertunjukan wayang beber dan dalangnya adalah Ki Ageng Tingkir. Dan mendengar suara dalang yang "kemebrebet" (Jawa) agak tidak jelas karena tertiupoleh angin.

Seiring berjalannya waktu selama sepuluh tahun kemudian, Sang ayah Mas Karebet yaitu Ki Ageng Pengging mendapat tuduhan sebagai pemberontak terhadap kerajaan Demak, hingga dihukum mati . 

Sebagai pelaksana hukuman atas Ki Ageng Pengging adalah Sunan Kudus. Setelah kematian suaminya, Nyai Ageng Pengging (Ibu Mas Karebet) jatuh sakit dan meninggal dunia. Sejak itu, Mas Karebet diambil sebagai anak angkat Nyai Ageng Tingkir (janda Ki Ageng Tingkir) semenjak saat itu masa remajanya Mas Karebet lebih dikenal dengan nama "Joko Tingkir"

Saat muda Mas Karebet sangat gemar bertapa, berlatih bela diri juga ilmu kanuragan atau kesaktian, sehingga saat tumbuh besar menjadi pemuda yang tangguh, tampan dan mendapat julukan Joko Tingkir. 

Guru pertama Joko Tingkir adalah Sunan Kalijaga. Selain berguru dengan Sunan Kalijaga Joko Tingkir juga berguru pada Ki Ageng Sela, dan dipersaudarakan dengan ketiga cucu Ki Ageng Sela yaitu, Ki Juru Martani, Ki Ageng Pemanahan, dan Ki Panjawi. 

Kemudian Joko Tingkir berguru dengan Ki Ageng Banyubiru atau Ki Kebo Kanigoro (saudara tua ayahnya / kakak mendiang ayahnya). Dalam perguruan Ki Ageng Banyubiru ini terdapat beberapa murid yang lain, yaitu Mas Manca, Mas Wila, dan Ki Wuragil.


Silsilah dan Nasab Joko Tingkir

Adipati Andayaningrat yang di kenal dengan Syarief Muhammad Kebungsuan adalah sosok sang kakek dari Joko Tingkir yang berarti ayah dari Kebo Kenanga (ayah Joko Tingkir). Ki Kebo Kenanga atau Ki Ageng Pengging ayah Joko Tingkir menikah dengan Nyai Ageng Pengging.

Adapun nasab garis keturunan dari Joko Tingkir melalui nasab sang kakek adalah sebagai berikut:
  1. Syarief Muhammad Kebungsuan /ADIPATI  ANDAYANINGRAT /  Ki Ageng Wuking I
  2. As-Sayyid Asy-Syaikh Jumadil Kubro al-Husaini/ Syekh Jamaluddin Akbar al-Husaini
  3. As-Sayyid Ahmad Shah Jalal
  4. Sayyid Abdullah Azmatkhan
  5. Al-Imam Abdul Malik Azmatkhan
  6. Al-Imam 'Alawi Ammil Faqih
  7. Al-Imam Muhammad Sohib Mirbath
  8. Al-Imam Ali Kholi’ Qosim
  9. Al-Imam Alawi Ats-Tsani
  10. Al-Imam Muhammad Sohibus Saumi’ah
  11. Al-Imam Alawi Awwal
  12. Al-Imam ‘Ubaidillah
  13. Al-Imam Ahmad al-Muhajir
  14. Al-Imam ‘Isa Naqib Ar-Rumi
  15. Al-Imam Muhammad An-Naqib
  16. Al-Imam Al-Imam Ali Uradhi
  17. Al-Imam Ja’far As-Sodiq
  18. Al-Imam Muhammad Al Baqir
  19. Al-Imam ‘Ali Zainal ‘Abidin
  20. Al-Imam Sayyidina Hussain
  21. Sayyidah Fathimah Az-Zahra
  22. Nabi Muhammad SAW
Jika dilihat secara sederhana garis keturunan Joko Tingkir adalah merupakan kakek ketiga dari pendiri Nahdlatul Ulama' yaitu Hadratus Syaikh Hasyim Asy'ari yang juga menjadi generasi keenam dari KH. Abdurrahman Wahid atau dikenal dengan Gus Dur.


Mengabdi Di Demak Bintoro

Joko Tingkir ingin mengabdi ke ibu kota Demak Jawa Tengah. Saat perjalanan terdapat beberapa kejadian menarik mengikuti Joko Tingkir, baik dalam perjalanan menuju Demak maupun pada saat mengabdi di Demak.

Saat sampai di Demak, Joko Tingkir singgah di rumah pamannya Kyai Gandamustaka (saudara Nyi Ageng Tingkir) yang menjadi perawat Masjid Demak dan mempunyai pangkat lurah ganjur. Joko Tingkir menarik simpati raja Demak Sultan Trenggana atas suatu kejadian. 

Sebuah kolam yang cukup besar yang terdapat didalam istana Demak digunakan untuk merik perhatian Raja Demak. Pada suatu hari ketika Joko Tingkir sedang berdiri di tepian kolam, tiba-tiba sang paman berteriak agar dia (Joko Tingkir) segera menyingkir dari tempatnya, karena Sultan Trenggana akan melintas.

Dalam keadaan yang sulit bagi umumnya orang biasa untuk segera berpindah tempat karena sudah tidak ada celah untuk menghindar kecuali melompati kolam yang cukup luas. Joko Tingkir atau Mas Karebet yang terlatih dengan sigap dan mudah segera melompati kolam, agar tidak mengganggu jalannya Sultan Trenggana. 

Dengan kejadian tersebut Sultan Trenggana sangat terkesan atas perilaku singgap yang dilakukan oleh Joko tingkir. Hingga akhirnya Joko Tingkir diangkat menjadi kepala prajurit Demak yang mempunyai pangkat lurah wiratamtama.


Menjadi Raja Panjang

Atas prestasi yang diraih oleh Joko Tingkir sangat cemerlang meskipun tidak terdapat cerita cerita secara jelas dalam Babad Tanah Jawi. Hal itu dapat dilihat dengan diangkatnya Joko Tingkir sebagai Adipati Pajang dan mempunyai gelar Adipati Adiwijaya. Ia juga menikahi Ratu Mas Cempaka, putri Sultan Trenggana.

Setelah Sultan Trenggana wafat pada tahun 1546, puteranya yang bergelar Sunan Prawoto seharusnya naik takhta, namun kemudian ia tewas dibunuh Arya Penangsang (sepupunya di Jipang) pada tahun 1549. 

Kemudian Aryo Penangsang mengirim utusan untuk membunuh Adiwijaya di Pajang, tapi gagal. Justru Adiwijaya menjamu para pembunuh itu dengan baik, serta memberi mereka hadiah untuk mempermalukan Arya Penangsang.

Sepeninggal suaminya, Ratu Kalinyamat (adik Sunan Prawoto) mendesak Adiwijaya agar menumpas Aryo Penangsang karena hanya ia yang setara kesaktiannya dengan adipati Jipang tersebut. Adiwijaya segan memerangi Aryo Penangsang secara langsung karena sama-sama anggota keluarga Demak dan merupakan saudara seperguruan sama-sama murid Sunan Kudus.

Maka, Adiwijaya pun mengadakan sayembara. Barangsiapa dapat membunuh Aryo Penangsang akan mendapatkan tanah Pati dan mentaok/Mataram sebagai hadiah.

Sayembara diikuti kedua cucu Ki Ageng Sela, yaitu Ki Ageng Pemanahan dan Ki Panjawi. Dalam perang itu, Ki Juru Martani (kakak ipar Ki Ageng Pemanahan) berhasil menyusun siasat cerdik sehingga sehingga Sutawijaya (Anak Ki Ageng Pemanahan) dapat menewaskan Arya Penangsang setelah menusukkan Tombak Kyai Plered ketika Aryo Penangsang menyeberang Bengawan Sore dengan mengendarai Kuda Jantan Gagak Rimang.

Setelah peristiwa tahun 1549 tersebut, Pusat kerajaan tersebut kemudian dipindah ke Pajang dengan Adiwijaya (Joko Tingkir) sebagai raja pertama. Demak kemudian dijadikan Kadipaten dengan anak Sunan Prawoto yang menjadi Adipatinya. Ia memerintah Kerajaan Pajang dari 1568 hingga 1582.

Adiwijaya juga mengangkat rekan-rekan seperjuangannya dalam pemerintahan. Mas Manca dijadikan patih bergelar Patih Mancanegara, sedangkan Mas Wila dan Ki Wuragil dijadikan menteri berpangkat ngabehi.


Wafatnya Joko Tingkir

Saat berperang mealawan Sutawijaya dengan jumlah pasukan yang lebih banyak dibandingkan pasukan lawan atau Mataram, namun akhirnya Adiwijaya mengalami kekalahan. Adiwijaya semakin tergoncang saat mendengar sebuah berita bahwa Gunung Merapi tiba-tiba meletus dan pasukan Pajang diterjang lahar panas dari Gunung Merapi.

Kemudian Adiwijaya menarik pasukannya mundur. Saat dalam perjalanan pulang, Adiwijaya singgah ke makam Sunan Tembayat Klaten, namun tidak mampu membuka pintu gerbangnya. Hal tersebut dianggapnya sebagai firasat jika ajalnya segera tiba.

Adiwijaya (Joko Tingkir) melanjutkan perjalanann pulang. Seampai di tengah perjalanan ia jatuh dari punggung gajah tunggangannya, sehingga harus diusung dengan tandu. Setelah sampai di Pajang, datang makhluk halus anak buah Sutawijaya bernama Ki Juru Taman memukul dada Adiwijaya, membuat sakitnya bertambah parah.

Adiwijaya berwasiat supaya anak-anak dan menantunya jangan ada yang membenci Sutawijaya, karena perang antara Pajang dan Mataram diyakininya sebagai takdir. Selain itu, Sutawijaya sendiri adalah anak angkat Adiwijaya yang dianggapnya sebagai putra tertua. Pada cerita rakyat dinyatakan bahwa sebenarnya Sutawijaya adalah anak kandung Adiwijaya dengan anak Ki Ageng Sela.

Dengan adanya kisah tersebut Adiwijaya alias Joko Tingkir akhirnya wafat pada tahun 1582 tersebut. Kemudian Joko Tingkir dimakamkan di desa Butuh, yaitu kampung halaman ibu kandungnya, Kabupaten Sragen, Jawa Tengah.

Demikian keaslian kisah siapa sebenarnya Joko Tingkir tersebut. Seorang penguasa tanah Jawa murid dari Sunan Kalijaga. Selain menjadi seorang Raja di Pajang beliau adalah seorang Ulama' yang terkenal yang ikut menyebarkan agama Islan kala itu.

Joko Tingkir dikenal sebagai ulama besar yang masyhur dan seorang murid kesayangan Sunan Kalijaga. Joko Tingkir adalah sesepuh dari tokoh-tokoh Ulama' Jawa yang hingga dihormati di seantero tanah air Indonesia. Perjuangan agama Islam tersebut diteruskan oleh cucu-cucunya hingga saat ini.

Terimakasih, Wassalam ......Baitulmustaqim

Post a Comment for "Joko Tingkir Ngombe Dawet, Siapa Sebenarnya Joko Tingkir, Simak Penjelasannya Disini......"