Filosofi Yang Terkandung Dalam Lebaran Ketupat

 Baitulmustaqim.com - Filosofi Yang Terkandung Dalam Lebaran Ketupat - Lebaran Idul Fitri 1 Syawal 1434 H sudah berlalu beberapa hari, kini saatnya menyongsong lebaran ketupat. Sebuah tradisi yang telah diwariskan oleh para wali songo, khususnya Sunan Kalijogo. Lebaran Ketupat sangat kental dengan budaya Jawa, sesuai dengan wali yang memperkenalkan istilah ketupat pada saat itu.

Tradisi Lebaran Ketupat pertama kali diperkenalkan pada masyarakat Jawa oleh Sunan Kalijaga. Sebuah tradisi yang jatuh pada tanggal 8 Syawal pada setiap tahunnya. Apakah maksud dan tujuan dari ketupat tersebut ...... mugkin masih saja ada yang belum memahaminya.
Lebaran Kupat
Maka kali ini admin akan memberikan informasi seputar Lebaran Ketupat dan Filosofi di dalamnya. Agar para genarasi penerus Islam memahaminya. Banyak filosofi yang terkandung dalam setiap ajaran para wali yang menyebarkan Agama Islam di Nusantara ini.

Sunan Kalijaga membudayakan 2 kali ba'da, yaitu : ba'da Lebaran dan ba'da Kupat yang dimulai seminggu sesudah Lebaran.

Kapan Lebaran kupat dilaksanakan ? Banyak sekali yang salah persepsi tentang pelaksanaan lebaran ketupat ini. Sebenarnya lebaran ketupat ini diambil dari telah selesainya puasa 6 hari pada bulan Syawal. Puasa tersebut sering dilaksanakan pada tanggal 2 syawal hingga tanggal 6 Syawal.
Lebaran Kupat atau ketupat tanggal 8 setiap bulan Syawal, bukan hari ke-6 atau ke-7


Arti Kata Ketupat

Seperti yang sudah admin sampaikan, banyak filosofi yang terkandung dan bahakan sampai saat ini belum mampu untuk memahaminya. Dalam hal ini yaitu lebaran ketupat, yang rutin dilaksakan setelah 7 hari pada bulan Syawal.
Ketupat Janur
Dalam filosofi Jawa, ketupat memiliki makna khusus. KETUPAT atau KUPAT merupakan kependekan dari : NGAKU LEPAT dan LAKU PAPAT.

1. Ngaku Lepat

Ngaku lepat mempunyai arti mengakui semua kesalahan, Laku papat artinya empat tindakan. Tradisi ngaku lepat ini sering kali dilaksanakan dengan berbagai macam perbuatan. Antara lain adalah:
  1. Tradisi sungkeman menjadi implementasi ngaku lepat (mengakui kesalahan) bagi orang jawa.
  2. Sungkeman mengajarkan pentingnya menghormati orang tua, bersikap rendah hati, memohon keikhlasan dan ampunan dari orang lain.

2. Laku Papat (Empat Tindakan)

Maksud dari laku papat atau perilaku empat adalah Lebaran, Luberan, Leburan dan Laburan. Pengertian dari masing-masing empat tindakan tersebut adalah sebagai berikut:

A. Lebaran

Lebaran artinya adalah sudah usai, yang menandakan berakhirnya waktu puasa. Jika lebaran telah tiba atau hilal yang menandakan tanggal 1 Syawal telah tampak maka berakhirlah puasa di bulan ramadlan.

Dalam Kamus Bahasa Indonesia kata lebaran diartikan sebagai hari raya ummat Islam yang jatuh pada tanggal 1 Syawal setelah menjalankan ibadah puasa di bulan Ramadhan.

Sebagian orang Jawa mempunyai pendapat berbeda mengenai kata lebaran. Kata lebaran berasal dari bahasa Jawa yaitu kata "wis bar" yang berarti sudah selesai. Sudah selesai menjalankan ibadah puasa di bulan Ramadhan yang dimaksud. "bar" sendiri adalah bentuk pendek dari kata "lebar" dalam bahasa jawa yang artinya selesai.

B. Luberan

Luberan berasal dari kata luber (bahasa Jawa) yang mempunyai arti meluap atau melimpah. Luberan disini didefinisikan kepada benda yang berarti harta benda yang sudah cukup dan luber. 

Setelah menjalankan ibadah puasa satu bulan penuh maka kita umat Islam dianjurkan untuk luberan dengan arti melimpahkan rasa ma'af kepada orang lain dan saling mema'afkan.

Selain saling mema'afkan kit ajuga dianjurkan untuk saling berbagi rizki dengan mengeluarkan sedikit harta benda kita yaitu membayar zakat. Zakat fitrah Infaq dan sedekah kepada fakir miskin. Luberan sebuah ajakan yang sangat mendidik bagi kaum muslim.

C. Leburan

Leburan berasal dari kata lebur, yang mempunyai makna telah habis atau hilang. Dengan sebuah arti dosa dan kesalahan akan melebur habis selesai puasa disambut dengan hari raya dan saling memaafkan satu sama lain.

D. Laburan

Laburan berasal dari kata labur, dengan kapur yang biasa digunakan untuk penjernih air maupun pemutih dinding. Setelah selesai puasa pada bulan Ramadlan manusia putih kembali tanpa adanya dosa. 

Dilanjutkan dengan saling bersalaman bermaaf-maafan selama hari raya Idul Fitri, maka manusia satu sama lain bersih dari dosa dan kesalahannya. Dan tetap terjaga kesucian lahir dan bathin.

Filosofi Kupat - Lepet

1. Ketupat atau Kupat

Ketupat atau kupat mempunyai filosofi yang sangat dalam, kupat tersebut selalu dibungkus dengan janur (Daun Kelapa muda). Kata janur diambil dari bahasa Arab, "Ja a Nuur" Telah datang cahaya. 

Bentuk fisik dari kupat yang segi empat ibarat hati manusia. Saat orang sudah mengakui kesalahannya maka hatinya seperti kupat yang dibelah, pasti isinya putih bersih, hati yang tanpa iri dan dengki. Kenapa? Karena hatinya sudah dibungkus cahaya (ja'a nuur).

Ketupat tentu tidak hanya sendiri terpampang di meja makan. Ketupat ditemani sayur yang dalam proses pembuatannya kalau orang Jawa bilang, digodog semalaman, dimasak dengan seksama, dan dihidangkan dengan gairah.

Digodog, dimasak, dan dihidangkan bermakna bahwa kita menjalankan puasa sebulan penuh digodog (menahan makan, minum, nafsu dan ego) untuk menjadi suci. Kemudian diolah hati dan pikiran dalam sebulan penuh Ramadhan sampai senantiasa menjadi tenang dan damai di hari Idul Fitri, sehingga pada akhirnya melihat diri dengan lapang.

2. Lepet

Lepet mempunyai arti Jawa silep kang rapet. Di simpan yang rapat, jadi setelah mengakui kesalahan (Lepat=Lepat) saling bermaafan maka harus menutup rapat-rapat kesalahan yang telah diperbuat jangan diulang kembali agar persaudaraan sesama muslim menjadi lengket sabagaimana isi dari lepet tersebut (Ketan).


Demikian informasi tentang Filosofi Yang Terkandung Dalam Lebaran KetupatSemoga kita dapat mengetahui filosofi yang terkandung di dalam lebaran ketupat pada tahun ini. Dapat mengamalkan filosofi yang ada pada lebaran ketupat tersebut. Lebaran, Luberan, Leburan dan Laburan.

Terimakasih, Wassalam ......Baitulmustaqim

Post a Comment

Previous Post Next Post