9 Kesunahan Yang Perlu Diketahui Jelang Hari Raya Idul Fitri

 Baitulmustaqim.com - 9 Kesunahan Yang Perlu Diketahui Jelang Hari Raya Idul Fitri - Hari raya Idul Fitri 1443 H tinggal menghitung jari, untuk itu pahamilah beberapa kesunahan dalam merayakan hari kemenangan tersebut. Sebagai umat muslim tentunya hari kemenangan tersebut sangatlah di nantikan. Namun kita sebagai muslim jangan sampai menyia-nyiakan hanya dengan kebahagian dan gembira belaka.
Idul Fitri, Sumber: Pixabay
Hari raya Idul Fitri bukanlah hanya sekedar hari kemenangan setelah sebulan penuh melaksanakan ibadah puasa di bulan Romadlon. Namun sebuah hari yang tidak dapat dilewatkan begitu saja oleh setiap muslim yang beriman untuk dapat saling berma'af-ma'afan, bersilaturahmi dengan keluarga, kerabat juga kolega.

Sebuah hari yang spesial bagi kaum muslim di dunia ini sangat pantas disambut dengan penuh kegembiraan, kebahagiaan yang tentunya sesuai tuntunan ajaran syariat Islam. Persiapan dari hari-hari sebelumnya sudah tampak jelas untuk menyambut datangnya hari nan Fitri ini.

Dalam menyambut hari nan Fitri ini tentunya akan lebih bermakna ibadah bagi kita, jika semuanya mengikuti ajaran yang telah diajarkan oleh Nabi Muhammad SAW. Hari Raya Idul Fitri akan lebih berarti dan bermakna.

Ada beberapa kesunahan sebelum hari raya Idul Fitri tiba, mulai dari malam hari sampai pada pagi jelang shalat Idul Fitri. Apasajakah kesunahan tersebut.... yuk kita simak langsung artikel ini.....

1. Mengumandangkan Lafadz Takbir, Tahmid dan Tasbih

Ilustrasi Takbiran, Sumber:Pixabay

Setelah menjalankan puasa sebulan penuh dengan diakhirinya puasa dan ditandai dengan munculnya Hilal yang menandakan tanggal 1 syawal telah tiba. Maka kita disunahkan untuk memperbanyak bacaan Takbir, Tahmid dan Tasbih. Sebagai ungkapan rasa syukur kita kepada Illahi Robbi yang telah memberikan kesempatan kepada kita untuk menjalankan ibadah puasa di bulan Romadlon.

Mengumandangkan takbir, tahmid dan tasbih dimulai dari terbenamnya matahari pada malam hari raya Idul Fitri hingga para imam hendak melaksanakan shalat Hari Idul Fitri.

Menurut Imam An-Nawawi dalam kitabnya yang berjudul Al-Adzkar hal.155 dijelaskan, disunahkan mengumandangkan takbir setelah shalat fardlu (Maghrib, Isaya' dan Subuh) juga dalam kedaan yang lainnya, se[perti di tengah keramaian manusia. Disunahkan pula dalam keadaan masih berjalan, duduk, berbaring, dimanapun berada asalkan masih dalam tempat yang suci.

Bacaan takbir, tahmid dan tasbih yang sering di kumandangkan menurut Syekh Hajar al-Haitami adalah:


اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ لَا إلَهَ إلَّا اللهُ اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ وَلِلهِ الْحَمْدُ، اللهُ أَكْبَرُ كَبِيرًا وَالْحَمْدُ لِلهِ كَثِيرًا وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَأَصِيلًا لَا إلَهَ إلَّا اللهُ وَلَا نَعْبُدُ إلَّا إيَّاهُ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُونَ لَا إلَهَ إلَّا اللهُ وَحْدَهُ صَدَقَ وَعْدَهُ وَنَصَرَ عَبْدَهُ وَهَزَمَ الْأَحْزَابَ وَحْدَهُ لَا إلَهَ إلَّا اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ (Syekh Ibnu Hajar al-Haitami, Tuhfah al-Muhtaj, juz 3, hal. 54). 


2. Mandi Sebelum Menuju Tampat Shalat Ied

Agama Islam sangat menjunjung tinggi dengan kebersihan, alam situasi apapun dan di manapun. Membersihkan diri dari kotoran dan najis (mandi) pada pagi hari raya Idul Fitri sunah hukumnya bagi setiap muslim, laki-laki, perempuan, bahkan bagi wanita yang haidl ataupun nifas untuk melakukan mandi ini.

Kesunahan dalam mandi ini juga berlaku bagi muslim yang tidak menghadiri shalat Ied, seperti halnya orang yang masih sakit. Adapun waktu pelaksanaan mandi ini setelah tengah malam hari raya hingga tenggelamnya matahari di esak harinya.

Menurut Syekh Sulaiman al-Bujairimi, dalam kitabnya Tuhfah al-Habib ‘Ala Syarh al-Khathib, juz 1, hal. 252, Mandi lebih utama dilakukan setelah terbitnya fajar. Dengan bacaan niat sebagai berikut:

نَوَيْتُ غُسْلَ عِيْدِ الْفِطْرِ سُنَّةً لِلهِ تَعَالَى 

Artinya: “Aku niat mandi Idul fitri, sunnah karena Allah”.   


3. Berhias dan Memakai Wangi-wangian 

Selain membersihkan diri atau mandi bagi kaum muslim disunahkan pula untuk berhias. Berpenampilan se-menarik mungkin, membersihkan badan, memotong kuku juga mengenakan wewangian.

Lebih utama memakai pakaian yang berwarna putih, jika tidak memiliki pakaian yang putih boleh mengenakan pakaian yang paling bagus ataupun pakaian yang baru.

Dari keterangan ini dapat dipahami bahwa tradisi membeli baju baru saat menjelang lebaran menemukan dasar yang kuat dalam teks agama, dalam rangka menebarkan syiar kebahagiaan di hari raya Idul Fitri.  Kesunnahan berhias ini berlaku bagi siapapun, meski bagi orang yang tidak turut hadir di pelaksanaan shalat Idul Fitri. 

Khusus bagi wanita atau perempuan dalam berhias ini tentunya harus melihat batas-batas syariat agama, seperti menutup aurat, tidak memperlihatkan bentuk tubuh, tidak memperlihatkan penampilan yang memikat bagi kaum laki-laki yang bukan muhrimnya dan lain-lain sebagainya.


4. Makan Sebelum Shalat Idul Fitri

Makan Pagi, sumber Pixabay
Makan pagi atau sarapan sebelum berangkat menuju tempat shalat Ied juga disunahkan oleh Nabi, lain halnya jika saat melaksanakan shalat Idul Adha yang disunahkan makan setelah shalat Ied.

Dari Ibnu Baridah dari bapaknya ra ia berkata:

“Rasulullah SAW, tidak akan keluar dari hari raya fitri sebelum beliau makan, dan beliau tidak akan makan dulu di hari raya Adha sebelum beliau shalat (terlebeih dahulu). HR Ahmad dan al Tirmidzi dan di shahihkan oleh Imam Ibn Hibban).

Lebih utama yang dimakan adalah kurma dalam hitungan ganjil, bisa satu butir, tiga butir dan seterusnya. Makruh hukumnya meninggalkan anjuran makan ini sebagaimana dikutip al-Imam al-Nawawi dari kitab al-Umm. (Syekh Khathib al-Syarbini, Mughni al-Muhtaj, juz 1, hal. 592).


5. Berjalan Kaki Saat Menuju Tempat Shalat Ied

Saat menuju tempat shslat Ied sangat dianjurkan untuk berjalan kaki dan termasuk dalam hukum sunnah, sebagaimana ucapan Sayyidina Ali:

 مِنْ السُّنَّةِ أَنْ يَخْرُجَ إلَى الْعِيدِ مَاشِيًا 

Artinya: “Termasuk sunnah Nabi adalah keluar menuju tempat shalat Id dengan berjalan”. (HR. al-Tirmidzi dan beliau menyatakannya sebagai hadits Hasan). 

Bagi yang tidak mampu berjalan kaki seperti orang tua, orang lumpuh dan lain sebagainya diperbolehkan untuk menaiki kendaraan. Demikian pula boleh kepulangan dari shalat Id dilakukan dengan tidak berjalan kaki. (Syekh Zakariyya al-Anshari, Asna al-Mathalib, juz 1, hal. 282). 


6. Perjalanan yang Berbeda, Antara Berangkat dan Pulang Shalat Idul Fitri

Berangkat menuju tempat shalat Idul Fitri baik itu dilaksanakan di Masjid atau tempat terbuka disunahkan mengambil rute perjalanan yang berbeda. Lebih diutamakan jalan saat pulang lebih jauh daripada saat berangkat.

Dasar dalam perjalanan ini bersumber dari hadits riwayat Bukhori, rute perjalanan pulang dan pergi saat menuju tempat shalat hendaknya berbeda, lebih dianjurkan rute perjalanan saat pulang lebih jauh dari saat berangkat.

Sebagaimana ditegaskan oleh al-Imam al-Nawawi dalam kitab Riyadl al-Shalihin. (Syekh Khathib al-Syarbini, Mughni al-Muhtaj, juz 1, hal. 591). Agar memperbanyak pahala menuju tempat ibadah. Anjuran ini juga berlaku saat perjalanan haji, membesuk orang sakit dan ibadah lainnya.


7. Sholat Sunnah Dua Rakaat

Kesunahan yang lain yaitu, setibanya di tempat ibadah atau masjid bisa melaksanakan shalat sunah dua rakaat dengan tanpa azan dan iqamat. Shalat sunah ini bisa dilakukan dengan berjamaah atau sendirian. Dan sunah juga bagi orang yang bepergian. dengan sebuah dasar hadis Nabi SAW, dari Ibn Abbas ra:

“Bahwasanya Nabi SAW shalat hari raya dua rakaat, beliau tidak shalat sebelumnya dan setelahnya”. (HR Imam Tujuh, al Bukhari, Muslim, Abu Daud, al Tirmidzi, al Nasa’i, Ibn Majah dan Ahmad).

Dalam melaksanakan shalat sunah tersebut, membaca surah Qaf di rakaat pertama dan surah Iqtarabatis Sa’ah di rakaat kedua. Dari Abi Waqid al laitsi ia berkata:

“Rasulullah SAW membaca surah Qaf dan Iqatarabat ketika shalat Idul Fitri dan Adha”.


8. Tahniah (memberi ucapan Selamat)

Hari raya adalah sebuah hari yang penuh dengan kegembiraan dan kebahagiaan bagi seluruh umat muslim di dunia. oleh karena itu sangat dianjurkan untuk saling berbagi kebahagiaan saat bersama-sama meraih hari kemenangan. Saling memberikan ucapan selamat atas hari raya.

Di antara dalil kesunnahannya adalah beberapa hadits yang disampaikan oleh  al-Imam al-Baihaqi, beliau dalam kitab Sunannya menginventarisir beberapa hadits dan ucapan para sahabat tentang tradisi ucapan selamat di hari raya. 

Meski tergolong lemah sanadnya, namun rangkaian beberapa dalil tersebut dapat dibuat pijakan untuk persoalan ucapan hari raya yang berkaitan dengan keutamaan amal ini. Argumen lainnya adalah dalil-dalil umum mengenai anjuran bersyukur saat mendapat nikmat atau terhindar dari mara bahaya, seperti disyariatkannya sujud syukur. 


9. Bersilaturahmi

Bersilaturahmi, Sumber:Pixabay
Amalan sunah yang terakhir yang admin bagikan saat hari raya Idul Fitri adalah bersilaturahmi, saling mengunjungi rumah sahabat, kerabat, sanak famili, baik dekat ataupun jauh. Tradisi saling mengunjungi saat hari raya Idul Fitri sudah ada sejak zaman Nabi Muhammad SAW. Ketika Idul Fitri tiba, Rasulullah mengunjungi rumah para sahabatnya.

Begitu pula para sahabatnya. Pada kesempatan ini, Rasulullah dan sahabatnya saling mendoakan kebaikan anatar satu sama lain. Sama seperti yang dilakukan umat Islam saat ini. Datang ke tempat sanak famili dengan saling mendoakan.


Demikian informasi seputar 9 Kesunahan Yang Perlu Diketahui Jelang Hari Raya Idul FitriSemoga dengan adanya artikel ini kita lebih memahami tentang sunah-sunah dalam berhari raya Idul Fitri. Tentunya kita sudah dapat memahaminya dan dapat kita praktekkan bersama nanti saatnya tiba beberapa hari lagi.

Tetap ikuti media sosial kami untuk mendapatkan informasi terupdate seputar pesantren dan informasi penting lainnya.

Ikuti pula Media Sosial kami :
Terimakasih, Wassalam ......kontributor Baitulmustaqim.com Andikabm 

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama