Santri dan Kaidah Usul Fiqih di era digital


Saat ini era digital berkembang sangat pesat. Hampir semua aspek dalam kehidupan kita dapat ditunjang melalui proses digital karena sudah banyak alat-alat manual yang berubah menjadi digital. Sebut saja internet. Siapa yang tidak mengenal internet. Kehadiran internet pada era digital saat ini membuat dunia seakan tidak dibatasi dengan ruang dan waktu. Dunia seakan hanya ada di genggaman tangan saja, informasi menjadi sangat mengglobal, cepat dan mudah diperoleh, terjangkau, informasi tanpa batas, konten tanpa filter dan dapat diakses di manapun.

Internet mempunyai aspek manfaat dan mudarat yang sama-sama besar; digunakan untuk menyebarkan pesan-pesan kebaikan; juga digunakan untuk menyebarkan kemungkaran; seperti fitnah, berita hoax, konten-konten negatif, dan lain sebagainya.

Siapa yang bisa menolak perkembangan dunia digital saat ini.

Amanat Ketua Umum PBNU Prof. Dr. KH. Said Aqil Siradj, MA. pada Peringatan Hari Santri Tanggal 22 Oktober 2017 di Jakarta:

Hari ini santri juga hidup di tengah dunia digital yang tidak bisa dihindari. Internet adalah bingkisan kecil dari kemajuan nalar yang menghubungkan manusia sejagat dalam dunia maya. Ia punya aspek manfaat dan mudharat yang sama-sama besar. Internet telah digunakan untuk menyebarkan pesan-pesan kebaikan dan dakwah Islam, tetapi juga digunakan untuk merusak harga diri dan martabat seseorang dengan fitnah dan berita hoaks. Santri perlu ‘memperalat’ teknologi informasi sebagai media dakwah dan sarana menyebarkan kebaikan dan kemaslahatan serta mereduksi penggunaannya yang tidak sejalan dengan upaya untuk menjaga agama (hifdhuddin), jiwa (hifdhun nafs), nalar (hifdhul aql), harta (hifdhul mal), keluarga (hifdhun nasl), dan martabat (hifdhul ‘aradl) seseorang.

Kaidah fikih: al-muhâfadhah ala-l qadîmis shâlih wa-l akhdzu bi-l jadîdi-l ashlah senantiasa relevan sebagai bekal kaum santri menghadapi tantangan zaman yang terus berubah.”


Previous Post Next Post